Sepeda dan Public Speaking

0
463

Masih ingatkah kapan pertama kali kamu dibelikan sepeda oleh orang tuamu?
Apakah sepedanya mulai dari roda empat dulu atau langsung beroda dua?
Kapan kamu mulai menaikinya?
Apakah kamu langsung mengayuhnya?

Apa yang pertama-tama kamu lakukan ketika memperoleh sepeda tersebut?
Memandanginya?
Mengelus-elusnya?
Mematut-matutnya?
Pegang-pegang stangnya?
Mulai menaiki sadelnya?

Penasaran ingin mencoba menaiki dan mengayuh bukan? Berjalan dan berkeliling dengan sepeda seperti layaknya teman-teman dan orang-orang yang berada di sekitar lingkungan rumahmu.

Lalu orang tua atau saudara atau teman-temanmu yang sudah lebih dulu bisa, menawarkan diri unuk mengajarimu bagaimana menaiki sepeda tersebut.

Mereka mengajarkan tahap demi tahap, mulai dari memegang stang, menaiki sadel, meletakkan telapak kaki di pedal lalu mengajari bagaimana cara menjaga keseimbangan badan.

Mereka tidak melepaskan kamu begitu saja, di belakang mereka memegangi sepeda tersebut, menjaga agar kamu tetap duduk tegak dan konsentrasi mengayuh pedal sambil melihat jalan di depan yang akan dilalui.

Mulailah kamu mengayuh.

Pertama kali sudah pasti terjadi ketidak seimbangan badan, sepeda oleng ke kanan atau ke kiri, adakalanya kamu terjatuh dan tersungkur.
Karena penasaran dan keinginan untuk bisa, kamu bangkit lagi dan mengayuh lagi, terus dan terus.
Dengkul baret-baret dan luka? ah abaikan saja, paling dikasi obat merah, kapok sebentar lalu besoknya kembali mengayuh sepeda.

Sampai akhirnya kamu bisa mengayuh dan dengan anggun melenggang diatas sepeda barumu.

Jalan yang dilaluipun mulai diperjauh, sebelumnya hanya di depan rumah, mulai ke sekitar komplek sekitar tempat tinggalmu dan bahkan sudah mulai ke jalan raya.

Menyenangkan kalau mengingat pengalaman belajar sepeda ini bukan?
Coba diingat-ingat lagi, apa yang dilakukan selama ini hingga sekarang kamu sudah mahir sekali mengayuhnya dan bahkan ada yang sudah melewati lintasan yang menantang seperti bukit dan pegunungan.

Sekarang kita mulai mengaitkan apa hubungannya naik sepeda dengan Public Speaking.

Menggambarkan cerita di atas demikian halnya dalam belajar ilmu Public Speaking, kemampuan berbicara di depan orang banyak, dua orang, lima orang , puluhan atau bahkan ribuan orang.

Masing-masing orang memiliki kemampuan berbicara, namun tidak semua orang mampu dan memiliki keberanian untuk berbicara di depan publik.

Belajarnya bertahap dan terus berlatih.

Bagaimana membangun rasa percaya diri?
Bagaimana mengendalikan rasa takut dan gugup?
Bagaimana menggunakan kontak mata, gerak tangan dan bahasa tubuh?
Bagaimana menjawab pertanyaan audiens?
Serta hal lainnya yang berkaitan dengan Public Speaking

Belajar Public Speaking bisa dari buku, menonton video, televisi, mendengar radio, mengikuti seminar dan kelas pelatihan dan berbagai cara lainnya. Namun ibarat naik sepeda, kamu harus mengayuh sendiri, merasakan bagaimana menjaga keseimbangan dalam mengayuh sampai kamu mahir, demikian juga dalam mendalami ilmu Public Speaking yaitu terus berlatih,berlatih dan berlatih hingga sampai ke tingkat mumpuni.

Tertarik?
Yuk kita berlatih bersama-sama di Komunitas Senang Bicara

Salam,
@senangbicara