Mengolah Rasa Takut Menjadi Kekuatan

0
613

Menghadiri sebuah acara kerap membuat kita mempertimbangkan banyak hal. Mulai dari waktu yang kita miliki, dengan siapa kita akan pergi, siapa yang akan kita temui saat disana, apa yang akan kita lakukan saat disana hingga pakaian yang akan dikenakan.

Contoh yang sering kita alami adalah pada saat menghadiri pesta pernikahan atau menghadiri sebuah acara pertemuan. Ketika menerima undangan, kita mulai sibuk mencari teman untuk datang kesana. Atau membuat janji untuk bertemu dan memastikan akan bersama-sama di acara tersebut.
Kenapa?
Karena kecenderungan dimana orang akan merasa nyaman ketika pergi dengan orang atau teman yang sama.
Apakah kamu mengalami hal yang sama Demina?

Kenapa kita sibuk melakukan hal itu? Salah satunya adalah kurangnya rasa percaya diri.
Kita berusaha sama dan tidak mau menggebrak rasa gugup atau rasa takut menghadapi suasana, lingkungan serta budaya yang baru. Padahal saat berada di acara seperti itu kita memiliki kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang, mendapatkan teman baru, berkomunikasi dan tentunya mendapatkan hal-hal yang baru.

Apakah rasa takut bertemu dan bicara dengan orang baru itu selalu buruk?
Terkadang kita perlu rasa takut agar tidak takabur.
Jika dihitung secara prosentase jika masih di angka 30%, ini masih wajar. Namun jika sudah berlebihan dan porsinya sudah mendekati angka 70%, ini sudah tidak sehat

Kenapa muncul rasa takut?
1. Karena tidak siap, baik secara mental, fisik atau wawasan
2. Takut gagal, bayangan kegagalan lebih besar dari pada kegagalan tersebut

Selain dua hal tersebut, di bawah ini ada beberapa faktor eksternal yang juga mempengaruhi diri kita seperti munculnya rasa ketakutan, keragu-raguan dan tidak percaya diri untuk bicara.
1. Pola komunikasi dengan orang tua di rumah. Misalnya segala hal diatur oleh orang tua sehingga anak tidak punya keberanian bicara dan menyampaikan pendapatnya.
2. Teman-teman yang ada di sekeliling kita, akan mempengaruhi sikap dan perilaku kita sehari-hari
3. Film yang kita tonton juga mempengaruhi diri kita, misalnya sering menonton film yang sedih membuat murung, tentu akan mempengaruhi emosi kita
4. Media cetak, buku, majalah yang kita baca

Bagaimana mengatasinya?
Mulailah menghadapinya dari mana rasa ragu dan takut bicara itu muncul.
Misalnya ketika berkomunikasi dengan orang tua yang serba mengatur dan tidak sudi dibantah, mulailah untuk menyatakan pendapat dengan bahasa dan cara yang baik dan santun. Cobalah memberikan pengertian tentang pendapatmu.

Temukan lingkungan pergaulan yang dapat menggiring kita menjadi pribadi yang lebih terbuka dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik.

Menambah referensi bacaan, tontonan yang dapat memotivasi diri ke arah yang lebih baik

Selain itu, STOP kebiasaan selama ini, jangan terus-terusan merendahkan diri. Merendah dirilah disaat yang tepat. Sikap merendah diri yang terus menerus justru semakin membuat kita tidak berani dan menyembunyikan potensi yang ada dalam diri kita.

Ada 3 pendekatan merubah rasa takut dan ragu-ragu menjadi sebuah kekuatan

1. Pendekatan Rasional

Takut dan gugup itu hanya diawal. Setelah dijalani dan dibiasakan, belum tentu kejadiannya sama dengan yang ditakutkan tersebut.
Jadikan sebagai kekuatan baru yaitu pada saat rasa takut muncul, jantung kita berdebar jadi itu kita putar menjadi rasa semangat.

2. Pendekatan Fisik – ciptakan rasa rileks

Pendekatan mental – lakukan ‘self talk’ positif ke diri sendiri bahwa kita bisa melakukan dan dengan niat baik pasti bisa

3. Persiapan yang baik

Sebelum hadir ke sebuah acara pertemuan atau sebuah pesta, ada baiknya melakukan survey singkat, dimana lokasi acara, siapa tamu atau peserta yang akan hadir, berapa orang yang ada di ruangan tersebut, apakah ada ketentuan dresscode ?

Ketahuilah, rasa takut itu muncul dari pikiran kita, bukan orang lain.

Salam,
@senangbicara